Memories about him (1)

Standar

Jalanku telah memutar. Hatiku telah berkeliling dan menjelajah. Mencoba mengenal tiap – tiap individu yang ku temui, dengan berpikir tentang kemungkinan yang akan menghampiriku. Ketika aku mengambil jeda, aku tersadar akan sesuatu. Tersadar bahwa rinduku adalah untuknya. Pikiranku adalah tentangnya. Di benakku hanyalah dia. Ia yang tak kuketahui keberadaannya. Ia yang tak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya. Namun ia telah sempat menceriakan hari – hariku sebelumnya.

Mungkin ia tak pernah ‘menyingkirkan’ ku meski aku memintanya pergi kala itu. Tak pula ia hilang seperti ditelan bumi. Ia ada, namun aku yang sering tidak peduli. Aku tidak membencinya, hanya saja aku tak ingin kelewat ‘batas’ waktu itu. Hmm.. tapi rasanya bukan karena itu. Aku memintanya meninggalkanku, memberi jarak pada kedekatan kami demi seorang wanita yang mengharapkannya. Wanita yang juga begitu dekat denganku. 😦

Aku tahu, saat itu aku jatuh. Hari – hariku mulai terasa kelabu. Tak ada lagi senyumnya, tak ada lagi canda tawanya dan tak ada lagi kunjungannya ke asrama. Aku mengerti sekali. Bahwa hidupku akan goyah dengan membiarkannya berlalu dariku. Pun langkahku menjadi tidak sempurna. Sebab tak ada lagi sahabat berbagi mimpi. Dan kenyataannya aku tak mampu membiarkan sahabatku merasa iri terhadapku hanya karena pria ini.

Satu hal yang pasti tidak ia tahu, bahwa titik dimana aku berada saat ini oleh sebab kehadirannya dulu. Begitu muda, begitu bersemangat dan begitu solih. Memberitahuku tentang mimpi – mimpinya hingga aku pun berani bermimpi, bercerita tentang cita – citanya dan aku pun berani menetapkan cita – citaku. Berkisah bahwa suatu saat nanti ia akan berdiri di hadapan orang banyak demi membagi ilmunya. Maka aku pun ingin melakukan hal yang sama.

Dan kini.. aku merindukannya.

Waktu 6 tahun tidaklah sebentar untuk menguji rasa ini. Enam tahun ini pun tidak mudah untuk melupakannya. Jika nanti aku bertemu kembali dengannya, aku hanya ingin bertanya, apakah ia terkadang memikirkanku, apakah ia terkadang merindukanku. Atau bahkan tidak mengingatku sama sekali. 😦

Sungguh, seandainya saat ini ia ada dihadapanku, aku hanya ingin bertanya apa saja yang ia lewati saat kami tidak saling bertukar kabar. Juga akan ku tanyakan apakah ia telah mendapatkan putri pemilik tahta dihatinya. Yah meski aku tahu ia tidak lagi in relationship.

Aku merindukannya untuk beberapa moment. Bahwa aku mengingatnya bukan karena segala pujian yang ia lontarkan. Hah, bahkan ia selalu mengejekku, mencela karyaku, membuatku merasa serba salah atas apa yang kukerjakan. Entah dari mana sebenarnya aku mulai teringat padanya akhir – akhir ini. Mencoba mencari fesbuknya yang ternyata pun tidak ada, sama sepertiku. Menemukan kembali foto bersama panitia saat kami menjadi partner. Mendapati biografi singkatnya di sebuah site video terbesar dunia.

Tiba – tiba rasa itu muncul kembali..

Malam ini, ketika aku mengingatnya, syair ini yang menenangkanku..

 

From This Moment

By Shania Twain

From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
And for your love I’d give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
Can’t wait to live my life with you, can’t wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment on

You’re the reason I believe in love
And you’re the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment
I will love you as long as I live
From this moment on

Iklan

Blog-ing.. blog-ing.. blog-ing..

Standar

Bagiku blog adalah perwujudan daya pikir manusia cerdas. Bukan sekedar pintar melainkan manusia yang sangat – sangat menghargai apa yang telah diturunkanNya di muka bumi ini. Maka kemudian manusia – manusia ini disebut kreatif. Memaksimalkan potensi yang diberiNya kemudian melahirkan sebuah temuan yang tak tampak kasat mata hingga kemudian menebar manfaat bagi umat sekalian.

Aku atau siapapun mungkin paling tidak memiliki minimal 1 buah halaman blog yang memenuhi jagat raya internet ini. Entah secara rutin atau tidak ditulisi, namun tetap saja username yang telah kita daftarkan pastilah terekam baik oleh sistem yang dibangun pada domain blog yang digunakan.

Telah beberapa kali pula aku membuat blog. Hmm.. jika dihitung – hitung mungkin lebih dari 5 kali. Tapi sepertinya tidak sampai 10 kali.. Dan hasilnya, tidak ada yang begitu ramai dikunjungi oleh pembaca. Eits.. sebentar, aku kan menulis tidak hanya memikirkan orang lain. Aku menulis hanya sekedar menuangkan apa yang mengusik pikiranku kemudian aku pun meyampaikannya bukan semata – mata ingin menjadi terkenal dan menjadi hebat. Sebab blog bagiku masih sekedar catatan harian. Sama seperti diary yang menemani hari – hari.

Pertama kalinya, sekitar 2003-2004 dimana aku telah jauh pergi dari rumah demi tugas menuntut ilmu, kampus menyediakan fasilitas internet 75 jam gratis selama 1 semeseter. Gratis bukan dalam arti kata sebenernya sebab biayanya telah masuk dalam biaya operasional pendidikan 😦 Dan kesempatan inilah yang akhirnya mendekatkanku pada internet.

Username yang ku gunakan seringkali berubah – ubah. Dari mulai namaku sendiri dengan domain yang sering digunakan untuk berjualan, kemudian berganti lagi hingga akhirnya ada yang sempat bertahan 2 tahun (2009 – 2011) dengan domain yang sama dengan ini. Kemudian aku berganti kembali dengan mengusung nama ‘buku’ ku yang nantinya akan terbit. Mungkin ini semacam strategi pasar. Namun karena namaku lebih familiar dan mudah diterima orang – orang, maka beberapa hari lalu ku putuskan untuk membuat blog baru. Ya, sebenarnya aku tidak berganti blog, aku hanya pindah dengan berbagai fungsi. Kini aku telah menetapkan username ini setelah kemarin sempat berpikir serius tentang aktifitasku di dunia kepenulisan.

Halaman yang ku buat ini tidak hanya akan berisi tentang diriku, tentang aktifitasku atau pun mimpi – mimpiku. Sama seperti hidupku pada dunia nyata. Karena melulu tidak tentang aku, tidak tentang hidupku dan cita – cita yang begitu ingin ku raih. Ada keluarga, saudara, sahabat bahkan kenalan yang hanya sekali lewat. Maka aku pun akan mulai menceritakan semuanya hingga detail. Memberi tahu padamu bahwa hidupku tidak sendiri. Ada mereka yang melengkapi semuanya. Kasih sayang maupun hal – hal yang tak dapat dibandingkan dengan materi. Ya, begitulah hidup. Jika hati kita untuk mereka maka hidup mereka pun terasa untuk kita. 🙂

Oya, pada blog – blog yang ku miliki sebelumnya, aku menuliskan tentang backpacking, beasiswa, resensi novel dan film. Maka sesekali mungkin akan ku selipkan hal – hal tersbut disini. Termasuk pengetahuanku tentang bidang yang ku geluti sejak 9 tahun terakhir : Matematika. Kenapa? Sebab aku telah dipercaya olehNya untuk mengemban amanah sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri dikota pelajar, Jogja. Dan aku berharap suatu saat nanti aku pun bisa meraih jenjang yang lebih tinggi hingga S3 (dengan beasiswa tentunya) bahkan menjadi Professor. Insyaallah. Amin Allahuma amin.

Tentang aku..

Standar

Mungkin bagi sebagian orang, diriku ini sering membingungkan. Berubah – ubah, tidak stabil bahkan terkadang sentimental dan keras kepala. Itu komentar dari teman – teman SMA ku yang cukup mengenalku. Paling tidak kami telah bersahabat selama 10 tahun terakhir. Meski kami tak terikat pada hal – hal yang lebih dalam, tapi aku cukup terbuka kepada orang  – orang yang pernah ku temui. Bahkan saking percayanya pada mereka terkadang aku malah tersandung pada hal – hal yang tidak ku mengerti. Dan akhirnya aku pun pernah dikhianati oleh temanku sendiri. Jatah cobaan buatku ku rasa 🙂

Lingkungan hidupku

Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayah bekerja sebagai wiraswasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga biasa. Kami 3 bersaudara. Aku, adik cewek yang berusia 1,5 tahun dibawahku dan adik cowok yang lahir 8 tahun kemudian. Jadi dihitung – hitung aku dan si bungsu selisih 10 tahun lebih 20 hari. Hmm.. cukup jauh bukan? Tapi tidak dengan hati kami.

Dalam keluarga kami hampir tidak pernah diberlakukan aturan – aturan yang rumit. Tidak ada perintah yang membuat kami menjadi tidak betah di rumah atau paing tidak mengganggu aktifitas kami sebagai anak. Ayah cukup bijak menghadapi tingkah polah kami, sedangkan ibu tidak terlalu bersikeras minta dituruti walaupun hampir setiap waktu mengomel. Tapi aneh juga jika tidak ada omelannya sehari saja. Dunia seperti berhenti sesaat. Dan jiwa kami tiba – tiba terasa kosong. Jadi lebih baik telingamu agak ‘risih’ dibanding dadamu yang merasa sesak karena tak mendengar suaranya 🙂

Ayahku berdarah jawa tulen, sebab mbah putri berasal dari Muntilan dan mbah kakung dari Gombong (salaha satu kota dekat Kebumen). Mbah Putri hijrah dari Muntilan ke Lampung mengikuti program pemerataan penduduk yaitu transmigrasi, namun aku tidak tahu kapan itu terjadi. Lampung menjadi tempat pertemuan mbah putri dan mbah kakung, maka jadilah aku pun berdomisili dikota ini hingga detik ini.

Ibuku adalah keturunan Muaradua (salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan). Sejak kecil ia suka berpindah – pindah sebab ia tak lagi memiliki ibu. Maka ia tinggal bersama bibi yang dianggapnya sebagai pengganti ibunya. Sedangkan ayahnya kemudian menikah lagi setelah kepergian ibunya. Jadilah aku memiliki nenek tiri yang masih ada hingga saat ini.

Pernikahan ayah dan ibu terjadi pada 26 Januari 1984. Kemudian aku lahir 10 November 1984. Cukup mudah kan mengingatnya? Yupz, tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan bagi negara kita 🙂

Ibu sering bercerita tentang awal mula perkenalannya dengan ayah. Bahkan mereka tak lama saling mengenal kemudian ayah meminta mbah putri untuk melamar ibuku. Ah, so sweet banget! Kadang ku pikir tema ‘cinta’ di dunia ini tidaklah begitu rumit. Cukup sederhana jika ingin mendefinisikannya. Dan ya itu terjadi tak hanya pada ayah ibuku. Mungkin ayah ibumu juga begitu kan? Tanyalah pada mereka sesekali. Bahwa terkadang pernikahan bukan diawali dengan saling mengenal yang lama, bahwa tidak melulu dihiasi dengan pacaran dan bahwa semua hal di dunia ini lebih banyak mengantakan kepada jalan kemudhratan dibanding jalan kebaikannya. Itulah ujiannya.


Kalo aku udah gak ada, apa yang kamu ingat dari aku?

Standar

Hari ini, setelah genap seminggu kepergiannya, aku mulai menata diriku kembali. Menguatkan diri bahwa kepergiannya adalah sebuah keniscayaan, sebuah kepastian, sebuah takdir yang mau tidak mau harus datang. Pun sebuah rasa kehilangan yang menjadikan hati ini begitu hampa. Entah sekarang atau nanti pastilah rasa itu yang akan menghampiri.

Tepat pada 8 Mei 2012, seorang sahabatku yang telah ku anggap sebagai adikku sendiri, dipanggil oleh Nya setelah diopname beberapa waktu karena penyakitnya. Aku baru mengetahuinya ketika salah seorang teman mengupload foto adikku itu di facebook dengan bertuliskan RIP di bagian atasnya. Betapa kagetnya aku ketika melihat fotonya setelah berhasil ku download. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Mengapa dia pergi secepat itu? Mengapa dia pergi saat aku tidak ada didekatnya? Dan mengapa dia pergi ketika merasa lelah dengan sakitnya, bahkan aku pun tidak pernah mendapat kabar tentang hal itu. Ya, memang aku mengetahui ia sakit setelah mendapat berita kepergiannya. Yang ku sesali adalah ketika ia sakit, ia sempat menanyakan kabar tentang aku melalui teman yang lain. Entah saat itu aku peduli atau tidak dengan keadaannya, meski ku anggap baik – baik saja, aku pun tak pernah mencoba menanyakan kabarnya meski hanya lewat sms. Atau mungkin aku terlalu egois dengan bersembunyi untuk beberapa waktu demi mencoba fokus pada hidupku sendiri. Astaghfirullah!

Pandanganku menerawang pada peristiwa beberapa tahun silam yaitu 1 Desember 2003. Kala itu usianya akan memasuki 9 tahun pada 30 Desember 2003. Namun takdir telah mendahului sebelum usianya genap di tahun itu. Dan dengan berat hati kami pun melepasnya demi menghadap sang Ilahi.

adek nico

Namanya Nico Sumaryono. Tubuhnya sedikit gemuk, sedikit lebih besar dibanding teman – temannya. Wajahnya putih bersih, yang kurasa terbawa gen Palembang dari ibuku. Mata ‘belok’ – nya tak beda jauh denganku. Hanya saja miliknya lebih besar. Dan lagi – lagi bibir merahnya mendapat warisan dari ibu. Hah, betapa sempurna tampilannya saat itu. Bahkan banyak orang yang selalu menggodanya meski dia masih kecil. Di kompleks rumah kami, di sekolahnya hingga pasar di dekat rumah kami. Dan satu hal yang selalu ditampakkan olehnya, polos! Bahkan ia tak pernah merasa bermusuhan dengan teman sebayanya meski terkadang mereka mengusilinya dengan meminjam mainannya yang memang terbilang lebih menarik dibanding yang lain. Tapi sudahlah, toh ini bukan cerita tentang mainan atau siapapun yang seringkali mengerjainya.

Aku masih begitu ingat pada satu kejadian yang rasanya cukup unik untuk diceritakan. Saat itu masih suasana hari raya Idul Fitri. Bagi sebagian besar anak – anak di negeri yang mayoritsanya muslim seperti Indonesia ini, tradisi itu adalah tradisi wajib yang pasti akan ada setiap tahunnnya. Dan itu artinya akan ada bagi – bagi THR bagi mereka yang masih dianggap anak – anak.

Nah, ketika itu ada seorang tetangga, bapak – bapak, yang sedang membagikan ‘uang baru’ di depan pagar rumah kami Anak – anak itu tan asing bagi kami karena rumah mereka berada pada gang yang sama dengan kami. Mereka bergerombol merubungi pria tersebut. Ayah, ibu, aku dan kedua adikku sedang berada di ruang tamu demi menunggu tamu yang datang untuk silaturahim. Setelah melemparkan pandangan keluar, entah adikku atau ibuku bertanya pada Nico,”De, sana ikut anak – anak biar dapet THR dari om itu.” Nico yang sedari tadi duduk saja di sofa hanya menjawab,”Nggak ah, nggak usah.” “Lho kok nggak usah? Kenapa? Emang uangnya buat apa?” Pertanyaan umum yang selalu ditanyakan kepada seorang anak kecil. “Buat naik haji”. Apa? Bagaimana bisa seorang anak kecil yang bahkan usianya belum genap 9 tahun, shalat pun dia belum paham apalagi tentang ber – haji. Subhanallah!!

Dan mungkin itu sebagai alarm bagi kami semua bahwa ia mengingatkan kami untuk naik haji suatu saat nanti. Karena tidak lama setelahnya ia pun pergi memenuhi panggilan – Nya. 😦

Kemana langkahku pergi?

Standar

Entah rasa apa yang sedang menyambangi hatiku saat ini. Wajahku sudah terlanjur murung sejak pagi. Sedang senyumku tak kunjung datang. Aku sedih. Aku bingung. Dan aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan setelah begitu banyak hal terjadi dalam seminggu terakhir ini. Melepas seseorang demi orang lain dan kehilangan seseorang karena kematian. Sungguh, rasanya kepala ini seperti terantuk oleh godam besar yang tak hanya membuatku pusing namun menjadikan jiwaku runtuh. Aku limbung, tak mampu berdiri tegak. Tak ada siapapun didekatku. Hanya Dia. Ya, hanya Dia. Meski mataku tak menanggap bayangannya, namun hanya Dia yang mampu ku ajak bicara.

Ia pasti tahu apa yang sedang ku hadapi. Ia pun tahu apa yang sedang kurasakan. Hanya, aku belum tahu apa yang sebenarnya diinginkanNya.

Lelah. terkadang aku lelah dengan semua ini. Ingin sekali melupakan mimpi –  mimpiku. Bahkan jika perlu kuhapus semua angan – angan apapun yang terlanjur singgah dibenakku. Namun lagi – lagi aku teringat padanya. Gadis cantik berusia 18 tahun yang selalu riang, yang entah dosa apa yang dilakukannya hingga Ia secepat kilat mengambilnya dari kami.

Ya Tuhan, bukan kami tidak menerima apa yang kau gariskan ini, hanya saja ia sudah terlalu dalam masuk ke hati kami. Telah banyak kenangan yang diukirnya untuk kami. Dan telah keras pula ia berusaha menerima sakitnya itu 😦

Selamat jalan adikku, Vita. Maafkan mba yg belum sempat memanggilmu ‘adik’. Ia pasti lebih sayang padamu 🙂